Pandangan itu?
Sejak lulus SMA kala itu, tak
berhenti dan tanpa menghabiskan waktu yang ada, akupun bergegas untuk
mendaftarkan diri kesalah satu perguruan tinggi yang ada di daerahku. Segala
urusan yang berkaitan dengan kelengkapan berkas pendaftaran segera aku lengkapi,
agar aku tak ketinggalan dengan teman-teman yang juga sama mendaftarkan dirinya
di universitas yang sama yaitu universitas Halu Oleo, universitas ini merupakan
salah satu universitas favorit yang ada di daerahku meski akreditasnya belum
cukup memuaskan tapi ini tidak menjadi penghalang besar bagi saya untuk tidak
melanjutkan studi.
Sejak saya masih duduk
dibangku SMP telah saya cita-citakan untuk bisa masuk diperguruan tinggi itu,
alih-alih aku bisa mendaftarkan diri menjadi salah satu calon mahasiswa FKIP
Biologi, waktu pun terus meninggalkan sejarah kehidupanku hingga pada akhirnya
cita-cita ingin menjadi guru Biologi pun pudar setelah masuk pada tingkat
sekolah menengah atas. Kala itu, aku berada pada jurusan yang didamba-dambakan
guru-guruku “sebut saja anak IPA” keberadaanku di jurusan ini membuat perubahan
besar dalam lingkungan keseharianku. Yah, saya harus bertemu dengan teman-teman
yang cerdas dan pintar. Hmm namun ini juga bukan masalah besar bagi saya,
justru keberadaan saya di jurusan ini malah melahirkan banyak keinginan dan
cita-cita, pengen jadi itulah! Pengen jadi inilah! hingga akhirnya aku memilih
untuk mengikuti proses.
Sebelum itu aku juga menjadi
salah satu siswa yang masuk dalam kepengurusan OSIS kala itu, yang sebelumnya
saya kalah dalam pertarungan pada pemilihan ketua OSIS. Suara terbanyak ketiga
itulah simbol yang aku dapatkan bersama kawanku. Tak putus asa alhamdulillah
aku mendapatkan posisi yang cukup baik menurutku, setelah kami dibagi dalam
bidang masing-masing yang telah ditentukan itu. Sebagai ketua Kerohanian dalam
OSIS tentunya saya harus bisa menunjukkan layaknya seorang yang memiliki bawaan
sholeh dan bertanggung jawab. Hmm, setiap hari jum’at aku harus mengumpulkan
teman-teman yang khususnya beragama Islam untuk segera turun dihalaman tengah
untuk yasinan bersama, tepatnya berhadapan dengan kantor kepala sekolah, dengan sedikit tersipu malu dan tangan mulai
gemetar hingga keringat dingin membasahi pipi”.? Tugas itu tetap saya jalankan.
Berbagai program yang telah aku canangkan sebagai bukti positif meski masih ada
juga yang mengatakan bahwa itu semua belum berhasil. Waktu yang ditunggu-tunggu
pun tiba. Dengan segera, aku mendaftarkan diri sebagai peserta ujian SBMPTN
(seleksi bersama masuk perguruan tinggi nasional) yang merupakan tes kedua
untuk bisa masuk di universitas tersebut. Harapan itu, terus menghantui pikiran
kecilku, alih-alih aku bisa lulus dan masuk sebagai mahasiswa yang lulus tes
tersebut. Tak lupa memohon kepada tuhan agar aku bisa lulus di tes itu”. Hari-hari
pun berlalu meninggalkanku”, sembari menunggu pengumuman setelah beberapa waktu
lalu aku baru saja mengikuti test tersebut. Hingga pada akhirnya, “singkat
cerita pengumuman pun tiba”, aku dengan kedua temanku sebutlah sapaannya ikhsan
dan irfan. Dengan rasa berharap dan rasa penasaran yang begitu besar
menghampiriku, akupun berjalan dengan sedikit membuang nafas panjang kearah
teman. Kami pun tiba di warnet, sesegera mungkin kami langsung mengecek info
atau pengumuman mahasiswa yang dinyatakan lulus. Nama dan nomor tes pun satu
persatu di ketik hingga akhirnya tak ada jawaban atau nama kami masuk sebagai
mahasiswa yang dinyatakan lulus. Ikhsan berkata “ sodaraku? Maaf kalian berdua
tidak lulus tes kali ini.
Dengan perasaan kecewa dan
hati yang galau aku dan kedua temankupun pulang sesegera mungkin. Diam tanpa
kata itulah yang kutunjukan kepada kedua temanku. Esok hari aku bergegas pulang
kampung halaman untuk memberikan info kepada kedua orang tuaku. Akupun tiba di
rumah, “sedikit melontarkan senyum bahagia”, agar kedua orang tuaku tetap
terlihat bahagia atas kedatanganku. Lalu, aku mulai cerita dan menyatakan
kepada ibu dan bapak. “Pak, Bu”? aku tidak lulus tes. Ibuku sedikit sedih pada
saat itu, dan bapak langsung mengatakan “ kuliah saja di Unilaki” nak, aku
sedikit menciutkan kening karena sejak masih duduk di bangku SMP, aku
berkeinginan bisa lanjut studi di Unersitas Halu Oleo. Tapi , lagi-lagi
semangat itu di patahkan oleh ayahku saat itu. “ ibuku” tanpa membiarkan ayahku
berkomentar, langsung memotong pembicaraan ayahku, hmm” pak kan masih bisa tes
lagi. Akupun langsung semangat lagi setelah ibuku berkomentar. Bu, pak kata
teman-temanku bahwa masih ada tes susulan yaitu tes SLMPTN ( seleksi lokal
masuk perguruan tinggi nasional). Singkat cerita, akupun dinyatakan lulus
setelah mengikuti tes SLMPTN tersebut, setelah mengikuti tes, “aku tidak lulus
sesuai dengan jurusan yang aku inginkan, tepatnya saya lulus “di jurusan
Sosiologi” yang sebelumnya pilihanku adalah mate-matika dan fisika murni. Hari pertama pun, aku lalui dengan sendiri
karena belum ada teman dekat yang bisa aku ajak seakrab mungkin.
Perubahan lingkungan yang aku
dapatkan begitu besar, lebih tepatnya aku harus bertemu orang-orang dari segala
penjuru daerah yang memiliki bentuk fisik, suara, penampilan, sampai pada
karakter masing-masing yang cukup berbeda dari yang sebelumnya aku temui di
sekolahku.
Dari bentuk fisik dan suara tidak menjadikan saya bingung mengapa mereka seperti itu, hanya
saja yang menjadi susuatu yang baru menurut aku adalah ketika harus menyaksikan
penampilan atau lebih tepatnya gaya berpakaian yang cukup berbeda yang
sebelumnya belum pernah aku temui,”. Tatkala, aku sedang makan siang di salah
satu warung yang cukup banyak pengunjungnya, yaitu warung makan Prima”,
pelan-pelan aku mulai menggerakan ayunan sendok secara perlahan sambil
menghadap kearah jalan, waktu makan pun usai “ sambil istirahat dan terus
menolehkan pandanganku kearah jalan,” pada akhirnya yang aku temui sosok yang
berbeda dari yang belum aku temui sebelumnya,. “yah,, dua orang wanita lewat
berjalan kaki,. Sambil ngobrol. “ dua orang wanita tersebut menggunakan busana
yang sangat berbeda. Wanita yang satu menggunakan pakaian yang cukup ketat,
mulai dari baju sampai pada celana yang dipakainya pun ketat. Selanjutnya ia
pun juga menggunakan jilbab hanya sampai pada bagian leher yang dilekatkan,
tanpa menutup secara keseluruhan. Pandanganpun tidak berhenti sampai disitu!
Aku terus melontarkan pandangan kepada wanita yang berada disampingnya, sedikit
berbeda dan jarang aku temui dikehidupan aku sebelumnya.
Pandangan itupun terus
mengikuti hingga pada langkah kakinya, dan pandanganku terus tertuju kepada
wanita yang menggunakan busana syar’i nya. “indah di pandang dan kesejukanlah
yang hadir untuk terus kupandangi tanpa henti.
Pikiran melayang-layang dan
hati kecilku berkata ‘’ kok, nyaman, yah..tak henti untuk mencari tahu
tentangnya “sebut saja jilbab panjang”,
aku pun bertanya kepada salah seorang guru (ustad) dekat asramaku, saat
itu tak sedang duduk bermajelis, diskusi berdua itulah yang aku lakukan, hingga
pertanyaan pertama aku lontarkan,.” Ustad? Mengapa jilbab panjang yang aku
lihat bagus untuk di pandangi dan memberikan kesejukan,. Beginilah pertanyaanku.
Sebut saja,” aku yang masih polos saat itu, yah,, dengan pertanyaan yang aku
lontarkan menandakan kalau aku belum tahu sama sekali tentang sosok muslimah
yang berhijab syar’i. Ustad menjawab pertanyaan yang aku sampaikan, ustad juga
sebisa mungkin menjelaskan sesederhana mungkin agar aku mudah paham dan
mengerti atas apa yang ustad jelaskan padaku saat itu, “de inilah letak
perbedaan antara perintah mahluk dengan khalik, tatkala khalik yang perintahkan
maka keindahanlah yang ada, bukan saja keindahan akan tetapi ketenangan,
kesejukanlah yang akan kita dapatkan saat kita pandangi terkhusus bagi muslimah
yang berhijab syar’i itu semua karena atas dasar perintah Allah SWT. Rasa
penasaran yang begitu besar membuat hati kecilku ingin terus bertanya dan ingin
mengetahui tentang hijab yang wanita muslimah gunakan seperti yang sering aku
pandangi itu?”, tanpa menyadari bahwa kalau pandangan itu justru sangat
berbahaya dan aku bisa berdosa,”.
Namun teman-teman perlu
ketahui bahwa lahirnya pandangan itu justru melahirkan rasa penasaran yang
begitu tinggi untuk mencari tahu dan semoga aku bisa mendapatkan wawasan
tentang hijab itu sendiri,” dan semestinya dengan ilmu yang aku dapatkan bisa
aku bagikan kepada adik perempuanku satu-satunya,” sebut saja namanya “yol”,tidak
cukup sampai disitu akupun punya keinginan besar bisa menulis tentang hijab.
Hari-hari yang aku lalui
tidak terlepas dari nuansa yang juga tidak sama seperti waktu masih masa SMA,
yah”<,, teman-teman SMA kala itu cara berpakaian mereka justru mengundang
nafsu bagi lawan jenisnya, bagaimana tidak benar mereka memakai jilbab tetapi
hanya sebatas menutup rambut dan kepala saja sampai sebatas leher doang
jilbabnya tanpa sesyar’i yang aku pikirkan.” Hmm, berbeda setelah aku masuk
kuliah justru yang aku temui benar banyak yang memakai jilbab tapi dilengkapi
dengan busana yang ketat yang dengannya juga mengundang pandangan bagi lawan
jenisnya, sontak mata mereka sebut saja para cowo-cowo akhir zaman tertuju dan
siulanpun keluar dari bibir mereka, dan siwanita ini pun justru merasa pede dan
merasa cantik jika mereka digoda pertanda mereka diperhatikan oleh kaum
lelaki,” solekan itu pun semakin bertambah dan dengan pedenya terus menampilkan
life style yang tak ketinggalan zaman.
Namun pandanganku tak
berhenti untuk memperhatikan keadaan, sontak saya lebih tertarik melihat lawan
jenis yang berbusana syar’i sebut saja mereka yang menggunakan jilbab panjang
kata orang-orang,” nuansa serasa berubah menurutku saat itu, benar banyak yang
berhijab tetapi hanya sedikit diantara mereka yang sesyar’i yang di perintahkan
Allah SWT, hanya sedikit di antara mereka yang berhijab syar’i. Setiap harinya
rasa penasaran terus muncul dalam pikiranku, pandanganku terus tertuju dan
terus berusaha untuk secepat mungkin mengetahui penjelasan tentang hijab syar’i
itu sendiri.
Ada hal berbeda yang aku
temui sejak pertama kali dan yang sesering mungkin aku pandangi yaitu mereka
yang berhijab syar’i, setiap kali bertemu dengan mereka baik itu di jalan face
to face dengan mereka selalunya mununduhkan pandangan mereka atau mengalihkan
pandangan mereka, dalam hati kecilku berkata? Apa ada yang salah dengan
penampilanku atau aku tidak baik untuk dipandang, karena jelek dan lain
sebaginya.
Itulah jawaban yang ada didalam pikiran dan
perasaanku saat aku bertemu dengan mereka tapi pandangan mereka dijauhkan
dariku saat itu, rasa penasaran kian memuncak untuk lebih mencari tahu,
mengapa? Sampai segitunya sih, mereka menunduhkan pandangan dihadapanku, akupun
bertanya kepada salah seorang teman yang aku anggap dia sudah cukup dekat
denganku,” aku bertanya? Sob, mengapa setiap saya bertemu mereka yang berjilbab
panjang itu selalu menundukan pandangan, secara tegas teman ini langsung
menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya, “mereka menunduhkan pandangannya
tatkala bertemu dengan lawan jenisnya itu disebabkan mereka yakin akan perintah
Allah SWT untuk setiap kali mereka bertemu dengan lawan jenisnya mereka
tunduhkan pandangan mereka agar tidak masuk dalam perangkap syaitan, karena
pandangan yang ada justru ini merupakan salah satu startegi syaitan untuk masuk
mempengaruhi anak manusia, hari ini kita perlu banyak bersyukur kepada
wanita-wanita muslimah begitu besar niatan mereka hingga berusaha istiqomah
dengan hijabnya dan melewati hiruk pikuk tatangan zaman dan menjaga segala
ketentuan yang telah Allah perintahkan. Terlebih tantangan dizaman ini sangat
besar, manusia-manusia yang bertebaran dibumi Allah ini justru mereka
berlomba-lomba untuk terlibat dalam kehidupan modern agar tak ketinggalan zaman.
Sungguh sangat disayangkan kepada mereka yang begitu tergiurnya dengan
kehidupan dunia dan meninggalkan perintah Allah SWT. Mereka tidak mau disebut
sebagai seorang yang ketinggalan zaman, mankanya mereka tidak mau menggunakan
hijab syar’i,” itu disebabkan pakaian muslimah menurut mereka tidak mengikuti
perkembangan zaman. Menjaga pandangan itulah simbol yang keluar dari
muslimah-muslimah yang sering aku pandangi, semoga kalian tetap istiqomah
menjaga hijab Syar’inya dan terus menjaga pandangan dan terus menjalakan
perintah Allah SWT dan segala ketentuannya.
Cahaya Itu Hadir
Cahaya itu pertama kali
menyapaku empat tahun lalu, tepatnya kelas tiga SMP. Cahaya yang menerangi
kegelapan hati saat zaman jahiliyahku dulu. Aku menyebut itu adalah zaman kejahiliyahan.
Dimana banyak sekali kebodohan-kebodohan yang aku lakukan saat itu. Allah, dzat
yang maha penyayang seakan memelukku saat itu. Ada ketenangan yang amat sangat
dalam hatiku saat cahaya itu datang menerangi hatiku yang sangat gelap. Aku
ingat, saat itu aku menangis sejadi-jadinya diatas sejadahku ketika kembali
mengingat kesalahan yang aku lakukan. Aku tak pernah habis pikir bagaimana jika
Allah memanggilku ketika cahaya itu belum datang menyapaku? Tuhan berjalan. Aku
semakin mengenal agamaku. Agamaku yang sudah belasan tahun aku anut namun
sedikit sekali aku mengetahui tentang agamaku, Islam. Keluargaku bukanlah
keluarga yang agamis. Aku terlahir dari keluarga yang biasa saja dalam
pemahaman agamanya. Saat cahaya itu hadir, hidupku berubah. Berubahnya aku
diawali dengan perubahan pakaianku. Pada zaman jahiliyah itu, aku belum
istiqomah dalam memakai hijab. Lebih tepatnya masih dilepas saat keluar rumah.
Atas izin Allah SWT, aku belajar untuk istiqomah memakai hijab. Proses yang
bagiku sangat panjang hingga aku memakai hijab syar”i dan kaos kaki sperti ini.
Aku awali niatku memakai hijab dengan berbohong kepada ibuku. Saat itu adalah
bulan ramadhan, waktu dimana seluruh siswi di SMPKu diwajibkan memakai hijab.
Ramadhan pun berlalu. Aku terus mencoba mengenakan hijabku disekolah dan di
luar rumah. Menyadari ada yang berbeda, ibuku kembali menanyakan “bulan puasa
kan udah lewat, kok masih pakai kerudung?” itu pertanyaan ibuku saat itu. Ibuku
memang belum berhijab sampai saat ini. Semoga Allah segera memberikan cahaya
itu juga kepada ibuku. Setelah aku jelaskan ingin berhijab, ibuku mengijinkan
dan tidak melarang sama sekali. Aku menikmati proses itu. Hijab yang aku
kenakan saat itu sangat jauh dari kata syar’i yang menutupi dan tidak
menerawang. Aku memang hanya memiliki beberapa hijab dalam lemariku. Maklum,
aku memang terkenal tomboy oleh keluarga dan teman-temanku. Waktu berjalan. Aku
semakin sering membaca artikel dan buku terkait kemuslimahan dan ilmu-ilmu
agama. Allah kembali menunjukkan kasih sayangnya padaku. Cahaya itu semakin
terang benderang. Aku membaca sebuah artikel tentang syarat memakai hijab,
tidak tipis dan menutup dada. Menyadari hijab yang aku pakai sangat jauh sekali
dari kata syar’i, aku mencoba mengumpulkan uang untuk membeli hijab syar’i.
Tepat di hari ulang tahunku, 10 Oktober. Sahabatku, Annisa Mal Insani memberiku
sebuah kado yang teramat sangat spesial untukku, jilbab syar’i. Akhirnya saat
itu koleksi hijabku bertambah menjadi tiga dan ketiganya berwarna putih. Waktu
berjalan. Aku menginjak bangku SMA. Proses hijrahku masih berlanjut. Sesudah
Allah memberiku teguran atas hijabku, Allah kembali menegurku dengan sangat
lembut. Melalui sebuah catatan di facebook, aku membaca postingan terkait kaos
kaki. Kalau tidak lupa judul postingan itu adalah “ kemana kaos kakimu, ukhti?”
postingan yang membuatku langsung mencari tahu perihal batasan aurat wanita.
Ternyata, aurat wanita hanya boleh terlihat wajah dan telapak tangan. Kaki? Itu
adalah bagian dari aurat yang wajib ditertutupi. Aku memberanikan diri untuk
memakai kaos kaki ketika keluar rumah. Bagaiaman reaksi orang terdekatku? Jelas
mereka kaget dan merasa aneh. Belum lama dikagetkan perubahan penampilanku
memakai rok, mereka kembali dikagetkan ketika aku memakai kaos kaki. Saat zaman
jahiliyah dulu, aku memang selalu memaki jeans. Hal yang tak pernah terpikirkan
olehku memakai rok. Dulu, aku sangat tidak menyukai rok dihadapan mereka. Lu”
kena angin mengapa kostum yang kamu pakai kaya gini? Seumur hidup aku baru kali
ini liat kamu pakai rok yang bukan rok sekolah”. Saat itu, aku yakin mereka
hanya kaget melihat perubahanku. Dan tentang kaos kaki itu, aku sempat
dikatakan aliran sesat oleh orang disekitar. Perlahan aku coba menjelaskan
mengapa aku berubah. Perubahanku tidakmenghalangiku untuk tetap bergaul dengan
teman-temanku. Mereka menerimabahkan karena perubahan itu aku bisa mengajak
mereka agar cahaya itu juga hadir kedalam hati mereka, jelas atas izinnya.
Ayahku yang sangat mendukung perubahanku saat mereka diluar sana khawatir aku
menyimpang. Tat kalah, dengan ayah, ibuku pun mendukung dengan cara berbeda.
Beliau selalu menutup pintu ketika ada tamu laki-laki dan aku langsung lari
kedalam kamar. Itulah kebiasaanku sampai saat ini. Atau bahkan terkadang aku
tidak membukakan pintu jika tamu itu laki-laki jika dan ayah ibu tak ada
dirumah. Ibuku pun sering membelikan kaos kaki untukku. Proses yang sangat
panjang dalam hijrahku. Setiap orang memiliki perjalanan hijrah yang berbeda.
Pun waktu yang dibutuhkan pun berbeda.
Jangan memandang rendah
mereka yang belum berhijab saat ini. Bisa jadi, suatu saat mereka lebih
istiqomah dalam hijab syar’nya kelak. Pun jangan merasa bangga jika ada
saudaramu yang memakai hijab karenamu. Sejatinya, semua itu bukan karenamu
tetapi karena Allah melalui dirimu. Cahaya itu, karenanyaaku mulai mengenal
tuhanku. Karenanya aku mengerti menjadi muslimah yang baik. Dan cahaya itu
mengantarkanku sampai saat ini. Semoga cahaya itu tetap ada dalam hati aku,
kamu dan kita semua. Cahaya iti adalah hidayah dari Rabb-ku.
Jagalah Jilbabmu!
Allah SWT berfirman:
“wahai nabi ! katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin,
Hendaklah mereka menutupnya jilbabnya ke
seluruh tubuh mererka. “yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk
dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun, maha
penyayang.” (QS. AL-Ahzab:Ayat 59).
Wahai suadari muslimah
siapakah yang menyuruhmu untuk berjilbab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan
engakau bawa dirimu? Oleh gemerlapnya dunia? Kemilaunya harta? Atau ketampanan
kepada seorang pria?
Walaupun engkau harus membuka
hijabmu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan, maka kehinaan yang akan
engkau dapatkan. Wahai saudari muslimah siapakah yang menyuruhmu untuk
berhijab?
Untukmu ukhti muslimah,
kemana akan engkau bawa dirimu? Kepada ke-muliaan jiwa? Kepada keridoaan sang
pencipta? Atau mulianya menjadi bidadari surga? Walaupun hinaan dan cacian yang
harus engkau terima, demi untuk menjaga hijab yang telah disyariatkan oleh
agama, maka kebahagiaan yang akan engkau dapatkan.
Katakan tidak oleh
gemerlapnya dunia, hijabmu harus terlepas karnanya. Katakan tidak oleh
kemilaunya harta, jika hijabmu yang menjadi tebusan-nya, karena sesungguhnya
hijabmu adalah benteng kemuliaan bagi dirimu.
Bahwasanya yang menyuruh
untuk berjilbab, yang menyuruh untuk berbusana muslimah, ialah Allah SWT dan
rasulnya yang menyuruh untuk memakainya.
Dan kita sebagai manusia
wajib taat kepada Allah SWT, karena Allah yang telah menciptakan kita. Allah
yang memberikan rizki kepada kita, Allah yang memberikan segalanya kepada kita.
Alqur’an memerintahkan untuk berjilbab, Allah yang menciptakan kita untuk
berjilbab.
