Kamis, 24 November 2016

Hijab Syar'i Penyejuk Hati (feriirawan)



Pandangan itu?
Sejak lulus SMA kala itu, tak berhenti dan tanpa menghabiskan waktu yang ada, akupun bergegas untuk mendaftarkan diri kesalah satu perguruan tinggi yang ada di daerahku. Segala urusan yang berkaitan dengan kelengkapan berkas pendaftaran segera aku lengkapi, agar aku tak ketinggalan dengan teman-teman yang juga sama mendaftarkan dirinya di universitas yang sama yaitu universitas Halu Oleo, universitas ini merupakan salah satu universitas favorit yang ada di daerahku meski akreditasnya belum cukup memuaskan tapi ini tidak menjadi penghalang besar bagi saya untuk tidak melanjutkan studi.
Sejak saya masih duduk dibangku SMP telah saya cita-citakan untuk bisa masuk diperguruan tinggi itu, alih-alih aku bisa mendaftarkan diri menjadi salah satu calon mahasiswa FKIP Biologi, waktu pun terus meninggalkan sejarah kehidupanku hingga pada akhirnya cita-cita ingin menjadi guru Biologi pun pudar setelah masuk pada tingkat sekolah menengah atas. Kala itu, aku berada pada jurusan yang didamba-dambakan guru-guruku “sebut saja anak IPA” keberadaanku di jurusan ini membuat perubahan besar dalam lingkungan keseharianku. Yah, saya harus bertemu dengan teman-teman yang cerdas dan pintar. Hmm namun ini juga bukan masalah besar bagi saya, justru keberadaan saya di jurusan ini malah melahirkan banyak keinginan dan cita-cita, pengen jadi itulah! Pengen jadi inilah! hingga akhirnya aku memilih untuk mengikuti proses.
Sebelum itu aku juga menjadi salah satu siswa yang masuk dalam kepengurusan OSIS kala itu, yang sebelumnya saya kalah dalam pertarungan pada pemilihan ketua OSIS. Suara terbanyak ketiga itulah simbol yang aku dapatkan bersama kawanku. Tak putus asa alhamdulillah aku mendapatkan posisi yang cukup baik menurutku, setelah kami dibagi dalam bidang masing-masing yang telah ditentukan itu. Sebagai ketua Kerohanian dalam OSIS tentunya saya harus bisa menunjukkan layaknya seorang yang memiliki bawaan sholeh dan bertanggung jawab. Hmm, setiap hari jum’at aku harus mengumpulkan teman-teman yang khususnya beragama Islam untuk segera turun dihalaman tengah untuk yasinan bersama, tepatnya berhadapan dengan kantor kepala sekolah,  dengan sedikit tersipu malu dan tangan mulai gemetar hingga keringat dingin membasahi pipi”.? Tugas itu tetap saya jalankan. Berbagai program yang telah aku canangkan sebagai bukti positif meski masih ada juga yang mengatakan bahwa itu semua belum berhasil. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan segera, aku mendaftarkan diri sebagai peserta ujian SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi nasional) yang merupakan tes kedua untuk bisa masuk di universitas tersebut. Harapan itu, terus menghantui pikiran kecilku, alih-alih aku bisa lulus dan masuk sebagai mahasiswa yang lulus tes tersebut. Tak lupa memohon kepada tuhan agar aku bisa lulus di tes itu”. Hari-hari pun berlalu meninggalkanku”, sembari menunggu pengumuman setelah beberapa waktu lalu aku baru saja mengikuti test tersebut. Hingga pada akhirnya, “singkat cerita pengumuman pun tiba”, aku dengan kedua temanku sebutlah sapaannya ikhsan dan irfan. Dengan rasa berharap dan rasa penasaran yang begitu besar menghampiriku, akupun berjalan dengan sedikit membuang nafas panjang kearah teman. Kami pun tiba di warnet, sesegera mungkin kami langsung mengecek info atau pengumuman mahasiswa yang dinyatakan lulus. Nama dan nomor tes pun satu persatu di ketik hingga akhirnya tak ada jawaban atau nama kami masuk sebagai mahasiswa yang dinyatakan lulus. Ikhsan berkata “ sodaraku? Maaf kalian berdua tidak lulus tes kali ini.
Dengan perasaan kecewa dan hati yang galau aku dan kedua temankupun pulang sesegera mungkin. Diam tanpa kata itulah yang kutunjukan kepada kedua temanku. Esok hari aku bergegas pulang kampung halaman untuk memberikan info kepada kedua orang tuaku. Akupun tiba di rumah, “sedikit melontarkan senyum bahagia”, agar kedua orang tuaku tetap terlihat bahagia atas kedatanganku. Lalu, aku mulai cerita dan menyatakan kepada ibu dan bapak. “Pak, Bu”? aku tidak lulus tes. Ibuku sedikit sedih pada saat itu, dan bapak langsung mengatakan “ kuliah saja di Unilaki” nak, aku sedikit menciutkan kening karena sejak masih duduk di bangku SMP, aku berkeinginan bisa lanjut studi di Unersitas Halu Oleo. Tapi , lagi-lagi semangat itu di patahkan oleh ayahku saat itu. “ ibuku” tanpa membiarkan ayahku berkomentar, langsung memotong pembicaraan ayahku, hmm” pak kan masih bisa tes lagi. Akupun langsung semangat lagi setelah ibuku berkomentar. Bu, pak kata teman-temanku bahwa masih ada tes susulan yaitu tes SLMPTN ( seleksi lokal masuk perguruan tinggi nasional). Singkat cerita, akupun dinyatakan lulus setelah mengikuti tes SLMPTN tersebut, setelah mengikuti tes, “aku tidak lulus sesuai dengan jurusan yang aku inginkan, tepatnya saya lulus “di jurusan Sosiologi” yang sebelumnya pilihanku adalah mate-matika dan fisika murni.  Hari pertama pun, aku lalui dengan sendiri karena belum ada teman dekat yang bisa aku ajak seakrab mungkin.
Perubahan lingkungan yang aku dapatkan begitu besar, lebih tepatnya aku harus bertemu orang-orang dari segala penjuru daerah yang memiliki bentuk fisik, suara, penampilan, sampai pada karakter masing-masing yang cukup berbeda dari yang sebelumnya aku temui di sekolahku.
Dari bentuk fisik dan  suara tidak menjadikan saya  bingung mengapa mereka seperti itu, hanya saja yang menjadi susuatu yang baru menurut aku adalah ketika harus menyaksikan penampilan atau lebih tepatnya gaya berpakaian yang cukup berbeda yang sebelumnya belum pernah aku temui,”. Tatkala, aku sedang makan siang di salah satu warung yang cukup banyak pengunjungnya, yaitu warung makan Prima”, pelan-pelan aku mulai menggerakan ayunan sendok secara perlahan sambil menghadap kearah jalan, waktu makan pun usai “ sambil istirahat dan terus menolehkan pandanganku kearah jalan,” pada akhirnya yang aku temui sosok yang berbeda dari yang belum aku temui sebelumnya,. “yah,, dua orang wanita lewat berjalan kaki,. Sambil ngobrol. “ dua orang wanita tersebut menggunakan busana yang sangat berbeda. Wanita yang satu menggunakan pakaian yang cukup ketat, mulai dari baju sampai pada celana yang dipakainya pun ketat. Selanjutnya ia pun juga menggunakan jilbab hanya sampai pada bagian leher yang dilekatkan, tanpa menutup secara keseluruhan. Pandanganpun tidak berhenti sampai disitu! Aku terus melontarkan pandangan kepada wanita yang berada disampingnya, sedikit berbeda dan jarang aku temui dikehidupan aku sebelumnya.
Pandangan itupun terus mengikuti hingga pada langkah kakinya, dan pandanganku terus tertuju kepada wanita yang menggunakan busana syar’i nya. “indah di pandang dan kesejukanlah yang hadir untuk terus kupandangi tanpa henti.
Pikiran melayang-layang dan hati kecilku berkata ‘’ kok, nyaman, yah..tak henti untuk mencari tahu tentangnya “sebut saja jilbab panjang”,  aku pun bertanya kepada salah seorang guru (ustad) dekat asramaku, saat itu tak sedang duduk bermajelis, diskusi berdua itulah yang aku lakukan, hingga pertanyaan pertama aku lontarkan,.” Ustad? Mengapa jilbab panjang yang aku lihat bagus untuk di pandangi dan memberikan kesejukan,. Beginilah pertanyaanku. Sebut saja,” aku yang masih polos saat itu, yah,, dengan pertanyaan yang aku lontarkan menandakan kalau aku belum tahu sama sekali tentang sosok muslimah yang berhijab syar’i. Ustad menjawab pertanyaan yang aku sampaikan, ustad juga sebisa mungkin menjelaskan sesederhana mungkin agar aku mudah paham dan mengerti atas apa yang ustad jelaskan padaku saat itu, “de inilah letak perbedaan antara perintah mahluk dengan khalik, tatkala khalik yang perintahkan maka keindahanlah yang ada, bukan saja keindahan akan tetapi ketenangan, kesejukanlah yang akan kita dapatkan saat kita pandangi terkhusus bagi muslimah yang berhijab syar’i itu semua karena atas dasar perintah Allah SWT. Rasa penasaran yang begitu besar membuat hati kecilku ingin terus bertanya dan ingin mengetahui tentang hijab yang wanita muslimah gunakan seperti yang sering aku pandangi itu?”, tanpa menyadari bahwa kalau pandangan itu justru sangat berbahaya dan aku bisa berdosa,”.
Namun teman-teman perlu ketahui bahwa lahirnya pandangan itu justru melahirkan rasa penasaran yang begitu tinggi untuk mencari tahu dan semoga aku bisa mendapatkan wawasan tentang hijab itu sendiri,” dan semestinya dengan ilmu yang aku dapatkan bisa aku bagikan kepada adik perempuanku satu-satunya,” sebut saja namanya “yol”,tidak cukup sampai disitu akupun punya keinginan besar bisa menulis tentang hijab.
Hari-hari yang aku lalui tidak terlepas dari nuansa yang juga tidak sama seperti waktu masih masa SMA, yah”<,, teman-teman SMA kala itu cara berpakaian mereka justru mengundang nafsu bagi lawan jenisnya, bagaimana tidak benar mereka memakai jilbab tetapi hanya sebatas menutup rambut dan kepala saja sampai sebatas leher doang jilbabnya tanpa sesyar’i yang aku pikirkan.” Hmm, berbeda setelah aku masuk kuliah justru yang aku temui benar banyak yang memakai jilbab tapi dilengkapi dengan busana yang ketat yang dengannya juga mengundang pandangan bagi lawan jenisnya, sontak mata mereka sebut saja para cowo-cowo akhir zaman tertuju dan siulanpun keluar dari bibir mereka, dan siwanita ini pun justru merasa pede dan merasa cantik jika mereka digoda pertanda mereka diperhatikan oleh kaum lelaki,” solekan itu pun semakin bertambah dan dengan pedenya terus menampilkan life style yang tak ketinggalan zaman.
Namun pandanganku tak berhenti untuk memperhatikan keadaan, sontak saya lebih tertarik melihat lawan jenis yang berbusana syar’i sebut saja mereka yang menggunakan jilbab panjang kata orang-orang,” nuansa serasa berubah menurutku saat itu, benar banyak yang berhijab tetapi hanya sedikit diantara mereka yang sesyar’i yang di perintahkan Allah SWT, hanya sedikit di antara mereka yang berhijab syar’i. Setiap harinya rasa penasaran terus muncul dalam pikiranku, pandanganku terus tertuju dan terus berusaha untuk secepat mungkin mengetahui penjelasan tentang hijab syar’i itu sendiri.
Ada hal berbeda yang aku temui sejak pertama kali dan yang sesering mungkin aku pandangi yaitu mereka yang berhijab syar’i, setiap kali bertemu dengan mereka baik itu di jalan face to face dengan mereka selalunya mununduhkan pandangan mereka atau mengalihkan pandangan mereka, dalam hati kecilku berkata? Apa ada yang salah dengan penampilanku atau aku tidak baik untuk dipandang, karena jelek dan lain sebaginya.
 Itulah jawaban yang ada didalam pikiran dan perasaanku saat aku bertemu dengan mereka tapi pandangan mereka dijauhkan dariku saat itu, rasa penasaran kian memuncak untuk lebih mencari tahu, mengapa? Sampai segitunya sih, mereka menunduhkan pandangan dihadapanku, akupun bertanya kepada salah seorang teman yang aku anggap dia sudah cukup dekat denganku,” aku bertanya? Sob, mengapa setiap saya bertemu mereka yang berjilbab panjang itu selalu menundukan pandangan, secara tegas teman ini langsung menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya, “mereka menunduhkan pandangannya tatkala bertemu dengan lawan jenisnya itu disebabkan mereka yakin akan perintah Allah SWT untuk setiap kali mereka bertemu dengan lawan jenisnya mereka tunduhkan pandangan mereka agar tidak masuk dalam perangkap syaitan, karena pandangan yang ada justru ini merupakan salah satu startegi syaitan untuk masuk mempengaruhi anak manusia, hari ini kita perlu banyak bersyukur kepada wanita-wanita muslimah begitu besar niatan mereka hingga berusaha istiqomah dengan hijabnya dan melewati hiruk pikuk tatangan zaman dan menjaga segala ketentuan yang telah Allah perintahkan. Terlebih tantangan dizaman ini sangat besar, manusia-manusia yang bertebaran dibumi Allah ini justru mereka berlomba-lomba untuk terlibat dalam kehidupan modern agar tak ketinggalan zaman. Sungguh sangat disayangkan kepada mereka yang begitu tergiurnya dengan kehidupan dunia dan meninggalkan perintah Allah SWT. Mereka tidak mau disebut sebagai seorang yang ketinggalan zaman, mankanya mereka tidak mau menggunakan hijab syar’i,” itu disebabkan pakaian muslimah menurut mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Menjaga pandangan itulah simbol yang keluar dari muslimah-muslimah yang sering aku pandangi, semoga kalian tetap istiqomah menjaga hijab Syar’inya dan terus menjaga pandangan dan terus menjalakan perintah Allah SWT dan segala ketentuannya.


Cahaya Itu Hadir
Cahaya itu pertama kali menyapaku empat tahun lalu, tepatnya kelas tiga SMP. Cahaya yang menerangi kegelapan hati saat zaman jahiliyahku dulu. Aku menyebut itu adalah zaman kejahiliyahan. Dimana banyak sekali kebodohan-kebodohan yang aku lakukan saat itu. Allah, dzat yang maha penyayang seakan memelukku saat itu. Ada ketenangan yang amat sangat dalam hatiku saat cahaya itu datang menerangi hatiku yang sangat gelap. Aku ingat, saat itu aku menangis sejadi-jadinya diatas sejadahku ketika kembali mengingat kesalahan yang aku lakukan. Aku tak pernah habis pikir bagaimana jika Allah memanggilku ketika cahaya itu belum datang menyapaku? Tuhan berjalan. Aku semakin mengenal agamaku. Agamaku yang sudah belasan tahun aku anut namun sedikit sekali aku mengetahui tentang agamaku, Islam. Keluargaku bukanlah keluarga yang agamis. Aku terlahir dari keluarga yang biasa saja dalam pemahaman agamanya. Saat cahaya itu hadir, hidupku berubah. Berubahnya aku diawali dengan perubahan pakaianku. Pada zaman jahiliyah itu, aku belum istiqomah dalam memakai hijab. Lebih tepatnya masih dilepas saat keluar rumah. Atas izin Allah SWT, aku belajar untuk istiqomah memakai hijab. Proses yang bagiku sangat panjang hingga aku memakai hijab syar”i dan kaos kaki sperti ini. Aku awali niatku memakai hijab dengan berbohong kepada ibuku. Saat itu adalah bulan ramadhan, waktu dimana seluruh siswi di SMPKu diwajibkan memakai hijab. Ramadhan pun berlalu. Aku terus mencoba mengenakan hijabku disekolah dan di luar rumah. Menyadari ada yang berbeda, ibuku kembali menanyakan “bulan puasa kan udah lewat, kok masih pakai kerudung?” itu pertanyaan ibuku saat itu. Ibuku memang belum berhijab sampai saat ini. Semoga Allah segera memberikan cahaya itu juga kepada ibuku. Setelah aku jelaskan ingin berhijab, ibuku mengijinkan dan tidak melarang sama sekali. Aku menikmati proses itu. Hijab yang aku kenakan saat itu sangat jauh dari kata syar’i yang menutupi dan tidak menerawang. Aku memang hanya memiliki beberapa hijab dalam lemariku. Maklum, aku memang terkenal tomboy oleh keluarga dan teman-temanku. Waktu berjalan. Aku semakin sering membaca artikel dan buku terkait kemuslimahan dan ilmu-ilmu agama. Allah kembali menunjukkan kasih sayangnya padaku. Cahaya itu semakin terang benderang. Aku membaca sebuah artikel tentang syarat memakai hijab, tidak tipis dan menutup dada. Menyadari hijab yang aku pakai sangat jauh sekali dari kata syar’i, aku mencoba mengumpulkan uang untuk membeli hijab syar’i. Tepat di hari ulang tahunku, 10 Oktober. Sahabatku, Annisa Mal Insani memberiku sebuah kado yang teramat sangat spesial untukku, jilbab syar’i. Akhirnya saat itu koleksi hijabku bertambah menjadi tiga dan ketiganya berwarna putih. Waktu berjalan. Aku menginjak bangku SMA. Proses hijrahku masih berlanjut. Sesudah Allah memberiku teguran atas hijabku, Allah kembali menegurku dengan sangat lembut. Melalui sebuah catatan di facebook, aku membaca postingan terkait kaos kaki. Kalau tidak lupa judul postingan itu adalah “ kemana kaos kakimu, ukhti?” postingan yang membuatku langsung mencari tahu perihal batasan aurat wanita. Ternyata, aurat wanita hanya boleh terlihat wajah dan telapak tangan. Kaki? Itu adalah bagian dari aurat yang wajib ditertutupi. Aku memberanikan diri untuk memakai kaos kaki ketika keluar rumah. Bagaiaman reaksi orang terdekatku? Jelas mereka kaget dan merasa aneh. Belum lama dikagetkan perubahan penampilanku memakai rok, mereka kembali dikagetkan ketika aku memakai kaos kaki. Saat zaman jahiliyah dulu, aku memang selalu memaki jeans. Hal yang tak pernah terpikirkan olehku memakai rok. Dulu, aku sangat tidak menyukai rok dihadapan mereka. Lu” kena angin mengapa kostum yang kamu pakai kaya gini? Seumur hidup aku baru kali ini liat kamu pakai rok yang bukan rok sekolah”. Saat itu, aku yakin mereka hanya kaget melihat perubahanku. Dan tentang kaos kaki itu, aku sempat dikatakan aliran sesat oleh orang disekitar. Perlahan aku coba menjelaskan mengapa aku berubah. Perubahanku tidakmenghalangiku untuk tetap bergaul dengan teman-temanku. Mereka menerimabahkan karena perubahan itu aku bisa mengajak mereka agar cahaya itu juga hadir kedalam hati mereka, jelas atas izinnya. Ayahku yang sangat mendukung perubahanku saat mereka diluar sana khawatir aku menyimpang. Tat kalah, dengan ayah, ibuku pun mendukung dengan cara berbeda. Beliau selalu menutup pintu ketika ada tamu laki-laki dan aku langsung lari kedalam kamar. Itulah kebiasaanku sampai saat ini. Atau bahkan terkadang aku tidak membukakan pintu jika tamu itu laki-laki jika dan ayah ibu tak ada dirumah. Ibuku pun sering membelikan kaos kaki untukku. Proses yang sangat panjang dalam hijrahku. Setiap orang memiliki perjalanan hijrah yang berbeda. Pun waktu yang dibutuhkan pun berbeda.
Jangan memandang rendah mereka yang belum berhijab saat ini. Bisa jadi, suatu saat mereka lebih istiqomah dalam hijab syar’nya kelak. Pun jangan merasa bangga jika ada saudaramu yang memakai hijab karenamu. Sejatinya, semua itu bukan karenamu tetapi karena Allah melalui dirimu. Cahaya itu, karenanyaaku mulai mengenal tuhanku. Karenanya aku mengerti menjadi muslimah yang baik. Dan cahaya itu mengantarkanku sampai saat ini. Semoga cahaya itu tetap ada dalam hati aku, kamu dan kita semua. Cahaya iti adalah hidayah dari Rabb-ku.

 
Jagalah Jilbabmu!
Allah SWT berfirman:
“wahai nabi ! katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka  menutupnya jilbabnya ke seluruh tubuh mererka. “yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.” (QS. AL-Ahzab:Ayat 59).
Wahai suadari muslimah siapakah yang menyuruhmu untuk berjilbab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan engakau bawa dirimu? Oleh gemerlapnya dunia? Kemilaunya harta? Atau ketampanan kepada seorang pria?
Walaupun engkau harus membuka hijabmu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan, maka kehinaan yang akan engkau dapatkan. Wahai saudari muslimah siapakah yang menyuruhmu untuk berhijab?
Untukmu ukhti muslimah, kemana akan engkau bawa dirimu? Kepada ke-muliaan jiwa? Kepada keridoaan sang pencipta? Atau mulianya menjadi bidadari surga? Walaupun hinaan dan cacian yang harus engkau terima, demi untuk menjaga hijab yang telah disyariatkan oleh agama, maka kebahagiaan yang akan engkau dapatkan.
Katakan tidak oleh gemerlapnya dunia, hijabmu harus terlepas karnanya. Katakan tidak oleh kemilaunya harta, jika hijabmu yang menjadi tebusan-nya, karena sesungguhnya hijabmu adalah benteng kemuliaan bagi dirimu.
Bahwasanya yang menyuruh untuk berjilbab, yang menyuruh untuk berbusana muslimah, ialah Allah SWT dan rasulnya yang menyuruh untuk memakainya.
Dan kita sebagai manusia wajib taat kepada Allah SWT, karena Allah yang telah menciptakan kita. Allah yang memberikan rizki kepada kita, Allah yang memberikan segalanya kepada kita. Alqur’an memerintahkan untuk berjilbab, Allah yang menciptakan kita untuk berjilbab.